Confession of an Economic Hit Man
Menguras habis kekayaan suatu negara lain melalui pengiriman armada perang adalah penjajahan dengan cara-cara kuno dan kasar serta mudah disadari oleh semua orang. Amerika Serikat, dengan Korporatokrasinya melalui perusahaan-perusahaan multinasional, lembaga-lembaga keuangan internasional mempraktekkan penjajahan dalam bentuknya yang baru, memeras habis kekayaan sebuah negara dengan cara memberikan hutang yang tidak akan terbayar bahkan jika seluruh aset negara dijual, tidak cukup untuk melunasinya.
Adalah John Perkins, seorang “ekonom” yang pernah berprofesi sebagai “Economic Hit Man” melalui bukunya “Confession of an Economic Hit Man” mencoba membeberkan ketamakan AS dan Korporatokrasinya, sebagai bentuk tanggungjawab terhadap apa yang telah dilakukannya di masa lalu.
Economic Hit Man adalah orang-orang yang telah dibentuk Amerika dengan tugas memastikan pemberian hutang dalam jumlah yang sangat besar kepada sebuah negara target tidak akan dapat dibayarkan kembali, dengan kata lain negara target dibangkrutkan.
Indonesia adalah tugas yang pertama bagi John Perkins [th 1970-an]. Disini ia ditugaskan untuk menghitung prediksi pertumbuhan kebutuhan energi dalam beberapa tahun kedepan. Tentunya setelah digelembungkan sedemikian besarnya, mereka akan mengucurkan dana –hutang– dengan persyaratan kontrak jatuh ketangan perusahaan-perusahaan yang telah mereka tunjuk. Bisa anda bayangkan dana yang mereka transfer hanya berkutat dari washington ke wall street. Dan kita yang tidak pernah menerima uangnya diharuskan membayarnya tiap tahun ditambah bunga.
Equador, tugas yang kesekian bagi Perkins, adalah contoh korban yang lain bagaimana hutangnya yang awalnya hanya sekitar 240-an juta dollar menjadi 20-an milyar dollar setelah ditemukannya sumber-sumber minyak di negara tersebut. Sungguh suatu hal yang tidak masuk akal.
Apakah kolonialisme ini hanya menimpa negara-negara yang tidak memiliki sumber pendanaan? Bagaimana dengan Arab Saudi? Jawabnya tidak. Mereka membuat metode yang berbeda dalam kasus Arab Saudi tetapi pada prinsipnya sama menyedot habis kekayaannya. Silahkan baca bukunya lebihlanjut jika anda tertarik –harusnya anda tertarik dan wajib anda membacanya.
Kolonialisme menjelma dalam bentuknya yang baru. Lebih halus, lebih bersih, lebih unthinkable. Melalui kakitangan-kakitangannya yang tidak sadar. “NeoKolonialisme”, demikian Soekarno menyebutnya.