Arsip

Arsip untuk Desember, 2007

Esensi hidup adalah berbagi

8 Desember 2007 cleevo 1 comment

“emm…mmm…mmm.”

Setiap tarikan nafas kita merupakan wujud penerimaan kita atas anugerah dari alam semesta. Oksigen yang kita hirup adalah hasil dari proses fotosintesis yang dilakukan oleh tumbuhan.

“sss…sss…sss…sss…”

Setiap hembusan nafas kita adalah wujud terimakasih kita pada alam semesta. Karbondioksida yang kita hembuskan menjadi anugerah bagi tumbuhan di hutan. Menjadi tarikan nafas mereka untuk bertahan hidup. Memberi mereka kesempatan yang sama untuk tetap berbagi.

Pada hakikatnya esensi dari hidup kita adalah saling berbagi. Berbagi dengan sesama makhluk, berbagi dengan alam semesta ini. Tetapi kita lebih sering berada dalam kondisi tidak sadar, tidak aware, tidak eling. Berapa banyakkah dari kita yang saat ini menyadari kita sedang apa, menghirup ataukah menghembuskan nafas?

Categories: spiritual

Mengenal Soekarno [1]

5 Desember 2007 cleevo 1 comment

“Kutitipkan Bangsa dan Negeri ini Padamu”

Itulah kalimat yang tertulis pada sebuah poster bergambar seorang pria gagah berpici sementara tangan kirinya memegang tongkat komando. Poster yang berada di rumah kakek saya di daerah yang terkenal sebagai pengusaha warungnya. Bisa dikatakan ini adalah pertemuan pertama saya dengan Soekarno, sosok proklamator dan presiden pertama RI.

Kenangan selanjutnya tentang beliau kebanyakan didapat dari buku-buku sejarah perjuangan di masa sekolah dan tidak sedikit pula berupa mitos-mitos dari mulut ke mulut. Tidak banyak pengetahuan tentang pemikiran-pemikiran beliau. Tetapi hingga saat itu cukup menjadi modal untuk membuatnya sebagai pahlawan idola.

Akan tetapi, ketika suatu saat film G30S/PKI diputar, semua hal baik dari beliau menjadi hilang. Gambaran yang tersisa adalah bahwa beliau merupakan pendukung PKI dan terlibat dalam aksi tersebut. Kesan ini berlanjut hingga bertahun-tahun kemudian. Setidaknya hingga beberapa tahun lalu saya akan merasa heran kalau ada orang yang mengidolakanya. Awalnya tidak aneh kalau yang mengidolakannya adalah orang-orang kebanyakan yang notabene lebih menonjolkan sisi mitosnya. Menjadi tidak biasa karena ternyata banyak orang terpelajarpun yang menjadikanya idola.

Hingga kira-kira dua tahun lalu, sebuah buku berjudul The Economic HitMan, ditulis oleh John Perkins menyadarkan saya. Bahwa visi seorang Soekarno tentang NeoKolonialisme benarlah adanya. Sebuah penjajahan atas suatu bangsa dalam bentuknya yang baru.

[bersambung]

NB: “Judul tulisan diatas sebenarnya adalah perkenalan penulis terhadap sosok soekarno. Pengetahuan si penulis sendiri sangat minim mengenai sosok beliau. Hal ini untuk menghindari ekspektasi yang berlebihan dari tulisan2 tersebut. Terimakasih

Categories: NeoKolonialisme

Selamat Datang Nak!

1 Desember 2007 cleevo 2 komentar

Kejadiannya dimulai pada awal bulan puasa lalu, di pagi hari setelah sahur.

“Masse…masse, aku hamil,” kata istriku. Dengan rasa tak percaya aku perhatikan testpack yang dipegangnya. Testpack yang kami beli pada malam sebelumnya. Terbersit rasa senang, tetapi aku tetap berusaha menyembunyikannya. “Memangnya kalau hamil apa indikatornya?” begitu tanyaku.

“Kalau negatif stripnya hanya ada satu, sedangkan di testpack yang aku pegang ini ada dua strip,” jawab istriku.

“Bener nggak dua strip?” kataku penasaran sembari mengamati testpack yang digenggamnya. Jelas aku penasaran karena strip yang satunya tidak begitu terlihat.

“Iya bener,” sanggah istriku, “strip yang satunya memang tidak begitu terlihat, tapi ini beneran dua strip kok.”

“Tadi prosedurnya udah bener gak? jangan-jangan ada yang kelewatan. Besok beli testpack lagi aja biar tambah yakin” Bukan tanpa alasan kalau kali inipun masih ada kesangsian, kalau-kalau ini cuma mimpi. Soalnya istriku satu ini suka merasa hamil padahal sih gak, cuma karena doyan makan aja, jadi ya timbangannya naik sedikit lah. Jadi wajar dong kalau kali ini kegembiraan ditahan dulu sampai pengujian lebih lanjut.

Besoknya kamipun melakukan uji lab lagi dengan hasil dua strip, POSITIF. Duh senangnya hati ini. Ada ego yang tiba-tiba muncul menyeruak,”Ah kami sehat.” Tak perlu lagi menghindari pertanyaan-pertanyaan yang kerap muncul dari teman-teman, kapan punya anak?sudah periksa belum?ke dokter A aja atau tanya si anu dulu periksa dimana. Bukan karena terganggu dengan jenis pertanyaannya, tetapi kami bosan menjawab pertanyaan yang sama berulang-ulang.

Selamat datang Nak!

Categories: Keluarga

Tidak harus menganut buddha

1 Desember 2007 cleevo Tinggalkan komentar

Jamaknya seorang pemuka agama adalah mengajak orang untuk mengikuti ajaran yang dianutnya. Karena meyakini bahwa itulah jalan terbaik menuju surga atau nirvana. Tetapi ternyata berbeda halnya dengan keyakinan Orang bijaksana yang satu ini.

“Tidak harus menganut buddha untuk menyebarkan kasih sayang di semesta ini,” begitu kata Dalai Lama. Tentu saja ini bukan kalimat yang mudah diucapkan bagi seorang pemuka agama –bahkan bagi seorang penganut awam-pun. Butuh seseorang dengan pemahaman spiritual yang dalam untuk menanggalkan ego yang dimilikinya.

Anda benar sekali paduka, saya tidak perlu menanggalkan ke-muslim-an saya untuk berbagi kebahagiaan dengan semesta ini.

“Semoga Semua Hidup Berbahagia”.

Categories: spiritual

Sesatkah mereka

1 Desember 2007 cleevo Tinggalkan komentar

Ada topik pembicaraan yang lagi tren saat ini, yakni heboh tentang aliran sesat. Tak kurang radio delta pun membahasnya beberapa hari yang lalu dengan narasumber salah seorang[lupa namanya] yang pernah menyelamatkan istrinya dari salahsatu aliran ini.

Beberapa aliran seperti sekte sucinya Lia Aminuddin, Ahmadiyah, Al Qiyadah, kemudian ada juga Kelompok yang melakukan shalat dwibahasa di jatim dan yang terakhir adalah berita hilangnya anak SMA di bandung yang menjadi anggota Al Quran suci divonis sebagai aliran sesat. Benarkah mereka itu sesat?

Doktrin yang pertama kali mereka sampaikan ketika merekrut adalah bahwa aliran mainstream yang ada sudah menyimpang dari ajaran yang benar. Mereka mengusung kemurnian dalam beragama. Menjanjikan terbentuknya tatanan masyarakat yang adil dengan nilai-nilai yang mereka terapkan. Nilai-nilai yang ada sekarang terbukti tidak menjamin adanya rasa keadilan dan kemakmuran, begitu yang mereka simpulkan. Jika sudah demikian, manakah sebetulnya yang sesat?

Dengan berpegang pada dalil “Kebenaran absolut hanyalah milik Tuhan”, semestinya kita tidak perlu saling memvonis ajaran A salah, ajaran B-lah yang paling benar. Sesat atau tidak sesat hanya Tuhanlah yang punya hak memvonis. Yang mestinya dipegang adalah keberadaan kita memberi manfaat dan kebahagiaan bagi banyak orang, siapapun ia, suku, agama atau ras apapun.

Categories: SokTahu